Sate Lebaran

Prolog

Dimalam yang telah larut itu, walaupun diiringi musik dangdut koplo yang bising, tetap saja wajah Kusno terlihat lelah dengan mata lima watt-nya. Ia tetap setia dibalik setir angkotnya sambil celingak-celinguk mencari penumpang dan berharap masih ada tambahan rejeki untuk hari itu. Pikirannya seharian itu tak lepas dari rengekan bocah kesayangannya, Raihan yang ingin makan sate daging kurban. Lusa adalah Lebaran Haji, dan aroma khas kambing telah tercium disepanjang jalan sejak seminggu lalu. Untuk orang pinggiran seperti Kusno yang tinggal di kontrakan pinggir Kali Ciliwung, daging kurban kadang sampai kadang tidak ke rumahnya. Yah, karena wilayah rumahnya memang jauh dari jangkauan keramaian kota. Makan daging mungkin hanya kesempatan sekali setahun bagi keluarga Kusno, yap hanya saat Lebaran Haji tiba. Maklum, Kusno hanyalah seorang supir angkot dengan 3 anak yang sudah bersekolah. Istrinya berjualan kue di SD tempat Raihan bersekolah. Setiap malam Kusno sampai di rumah mendapati istri dan anak-anaknya tertidur. Beruntung mereka masih sempat bertemu saat shalat subuh berjamaah. Continue reading “Sate Lebaran”

Advertisements

Kamu, Duniaku

“Go travels and find experience that money can’t buy”

Prolog

Tidak ada yang lebih sial dari hari Senin pagi yang banjir karena hujan deras yang mengguyur kota Jakarta sejak tadi malam. Belum lagi desakan calon penumpang commuter line di Stasiun Manggarai seperti berebut sembako ketika kereta jurusan Bogor datang. Kaki pun jadi korban injakan dan badan seakan menyusut diapit buldoser, itupun masih untung bisa selamat masuk kedalam kereta. Perjalanan yang sebentar sebenarnya menuju Stasiun Tebet, namun perjuangannya sungguh dahsyat.

Lega rasanya bagi Danu ketika menginjakkan kaki di Stasiun Tebet. Diseberang sana angkot sudah menunggu. Dengan sedikit menerobos hujan akhirnya Danu bisa duduk nyaman juga didalam angkot. Daripada melamun di angkot menatapi hujan, Danu mengeluarkan hp dari dalam tasnya. Iseng-iseng dia membuka galery foto. Ada foto yang menyolok dalam galerynya. Ternyata foto Vanya ketika trip Pulau Tidung 3 bulan lalu. Difoto itu wajah Vanya terlihat cantik dengan dress pink dan panorama pantai sebagai background-nya. Sejenak Danu khilaf dengan kesialan hari itu. Sambil memandangi foto Vanya, Danu bergumam dalam hati : “ahh, wajahmu mengalihkan duniaku”

One Un-fine Day

Luna : “Damn ! banyak banget email yang belum gue bales…aarrggh”

Hari itu hectic sekali dan membuat Luna tak hentinya bergumam dalam hati:

butuh liburan !”

Mejanya berantakan penuh kertas. AC kantor seakan tak berfungsi terlihat dari dress merah pendek bermotif batik yang dikenakannya basah dengan keringat. Sejak siang ia mondar mandir didepan meja kerjanya. Rambut pendeknya pun terlihat tak beraturan.

Jam menunjukkan pukul 8 malam dan Luna masih berusaha membalas email-nya satu persatu. Ruangan pun sudah mulai sepi. Yang tersisa hanya Bunga dan 2 orang team-nya di pojok ruangan dekat jendela.

Continue reading “Kamu, Duniaku”